Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 terjadi pada pukul 04.58 WIB atau 05.58 WITA. Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, gempa tersebut merupakan gempa bumi dangkal dengan kedalaman sekitar 15 kilometer dan berpusat di laut, sekitar 30 kilometer arah timur laut Nagekeo. Gempa dipicu aktivitas Flores Back-Arc Thrust atau Sesar Naik Flores.

Guncangan kuat dirasakan di sejumlah wilayah Flores. BMKG mencatat intensitas hingga VI MMI di Wolowae, Kabupaten Nagekeo, dan Kota Bajawa, sementara Kota Ende, Borong, dan Ruteng mengalami intensitas V MMI.

Gempa tersebut juga memicu tsunami yang terpantau di sejumlah wilayah pesisir. BMKG mencatat gelombang antara lain di Sikka sebesar 0,20 meter, Pelabuhan Kewapante-Sikka 0,38 meter, Flores Timur 0,25 meter, Labuan Bajo 0,36 meter, dan Maurole, Ende, mencapai 0,94 meter. Peringatan dini tsunami kemudian diakhiri pada pukul 07.30 WIB.

Dampak bencana dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Flores dan sekitarnya. Berdasarkan pendataan BNPB per 17 Agustus 2026, sebanyak 68 orang meninggal dunia dan 213 orang mengalami luka-luka akibat gempa tersebut. Data korban dan kerusakan masih bersifat dinamis dan terus diperbarui oleh pihak berwenang.

Selain korban jiwa, gempa juga menyebabkan kerusakan pada rumah, fasilitas pelayanan publik, fasilitas kesehatan, sekolah, serta sejumlah bangunan lainnya. Kondisi di beberapa wilayah juga diperberat oleh gangguan akses dan komunikasi yang menghambat proses penanganan serta pendataan dampak bencana.

Hingga 18 Agustus 2026, aktivitas kegempaan di wilayah NTT juga masih berlangsung. BMKG mencatat 2.119 gempa susulan, dengan magnitudo terbesar mencapai 6,2. Sebanyak 24 gempa susulan tercatat memiliki magnitudo di atas 5, sementara 70 gempa susulan telah dirasakan masyarakat.

Bencana ini juga turut dirasakan oleh keluarga besar Badan Pendapatan dan Aset Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur. Sejumlah UPTD/Samsat BPAD NTT yang berada di wilayah Flores turut berada di tengah kondisi terdampak bencana, bersama masyarakat yang selama ini menjadi bagian dari pelayanan mereka.

Di tengah situasi tersebut, BPAD NTT terus memberikan perhatian terhadap kondisi jajaran di wilayah terdampak. Keselamatan pegawai, keluarga, serta masyarakat menjadi hal yang utama, sementara perkembangan kondisi di masing-masing wilayah terus menjadi perhatian bersama.

Bagi BPAD NTT, UPTD/Samsat di Flores bukan hanya bagian dari struktur pelayanan pemerintah daerah, tetapi juga merupakan keluarga besar yang bersama-sama mengemban tugas memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Karena itu, BPAD Provinsi NTT menyampaikan solidaritas kepada seluruh masyarakat Flores yang terdampak, keluarga korban, para penyintas, serta seluruh jajaran pemerintahan dan petugas yang saat ini masih bekerja dalam situasi pascabencana.

Duka masyarakat Flores adalah duka kita bersama.

Semoga seluruh korban yang meninggal dunia mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan, korban yang mengalami luka segera diberikan kesembuhan, serta seluruh masyarakat dan jajaran UPTD/Samsat di wilayah terdampak senantiasa diberikan perlindungan.